Budaya mempengaruhi seluruh aspek kehidupan suatu masyarakat, sehingga jika terdapat suatu budaya baru atau perubahan budaya dalam suatu masyarakat, maka akan muncul resistensi (penolakan) dari sebagian masyarakatnya atau seluruhnya. Terdapat 3 jenis penolakan, yaitu :
1.Penolakan logis; penolakan berdasarkan alas an yang nalar dan ilmiah.
2.Penolakan pskologis; penolakan berdasarkan emosi, sentiment dan sikap yang lebih disebabkan kekuatiran akan sesuatu yang tidak diketahui, terganggunya rasa aman akibat perubahan.
3.Penolakan Sosiologis; penolakan berdasarkan kepentingan dan nilai kelompok kibat dari adanya persekongkolan politis, kepentingan pribadi, pandangan picik, bertentangan dengan nilai kelompok dan keinginan untuk mempertahankan persahabatan yang terjalin sekarang.
Budaya kerja merupakan sikap, perilaku, komunikasi dan kebiasaan yang dikembangkan berdasarkan nilai-nilai budaya yang berkembang dan dikembangkan guna menunjukkan adanya ciri khas yang membedakan anggota suatu organisasi dengan organisasi lainnya dalam melakukan aktivitas organisasinya.
Agar perubahan budaya kerja dapat dilakukan dengan baik maka perlu adanya pengelolaan yang baik. Pengelolaan yang baik terhadap pelaksanaan perubahan budaya kerja harus dilakukan dengan 3 cara, yaitu :
1.Smoothing; Kebanyakan orang yang mengalami perubahan budaya akan berada pada kondisi psikologis yang dinamakan kejutan budaya, yaitu suatu kondisi yang membuat bingung, cemas, tidak aman yang diciptakan oleh lingkungan baru yang asing. Maka dalam melakukan perubahan budaya sebaiknya dilakukan secara evolusioner, bukan revolusioner (yaitu secara berangsur-angsur, bukan secara drastis).
2.Terstruktur; perubahan budaya harus dilakukan melalui sistem. Tanpa sebuah sistem yang dibangun, maka perubahan tersebut dapat dianggap sebagai teror bagi masyarakatnya. Sebuah sistem harus berada dalam keseimbangan sosial (Social Equilibrium). Hal itu dapat dicapai jika kita dapat menciptakan suatu dinamika yang menyeimbangkan semua bagiannya yang saling tergantung. Meskipun terjadi gerakan terus-menerus dalam setiap organisasi, harus tetap terpelihara keseimbangan kerja sistem. Sistem sama halnya dengan laut yang bergerak terus menerus, tetapi sifat dasar laut hanya berubah sedikit. Perubahan budaya harus dilakukan secara terencana, tidak boleh secara gradual apalagi hanya mengejar target waktu pelaksanaan implementasi perubahan budaya. Perubahan budaya dapat diilustrasikan dengan cara sederhana melalui percobaan menggunakan balon yang berisi udara. Apabila sebuah jari (yang mewakili perubahan) ditekankan pada bagian luar balon (yang mewakili organisasi), garis bentuk balon jelas berubah pada bagian yang ditekan. Pada sisi bidang yang mengalami tekanan secara jelas, yang mewakili perubahan, telah menimbulkan penyimpangan garis yang nyata. Akan tetapi yang tidak begitu jelas adalah bahwa seluruh balon (organisasi) terpengaruh dan terentang sedikit. Dengan ilustrasi perbandingan tersebut maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa organisasi secara keseluruhan cenderung terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada salah satu bagiannya. Nah molekul udara dalam balon itu mewakili pegawai perusahaan. Jelaslah bahwa mereka yang ada berada di tempat terjadinya perubahan harus menyesuaikan diri secara drastis. Jadi, perubahan harus dilakukan berdasarkan sistem yang dibangun secara terstruktur. Perubahan harus membawa dampak pada individu maupun organisasi. Jika salah satu tidak dapat terpenuhi, maka perubahan budaya tidak dapat berjalan optimal.
3.Berkelanjutan; Budaya merupakan pola kebiasaan berperilaku, bersikap, dan berkomunikasi dengan menggunakan nilai-nilai tertentu yang disepakati secara bersama. Melakukan perubahan budaya berarti melakukan usaha memasukkan nilai-nilai baru dan asing kepada suatu kelompok. Hal tersebut memerlukan proses yang berkelanjutan. Budaya idealnya bersumber dari nilai-nilai yang berkembang dari :
•Internal organisasi : Individu anggota organisasi, organisasi
•Eksternal organisasi : Individu di luar organisasi, organisasi lain.
Dalam struktur organisasi dalam sebuah perusahaan, perubahan budaya merupakan strategi yang terletak pada corporate level strategy dan business level strategy. Dalam perspektif Knowledge Management, budaya bersumber pada tacit knowledge / culture (pengetahuan / budaya individu) dan eksplisit knowledge/ culture (pengetahuan/ budaya yang dimiliki oleh organisasi).
Agar dapat melakukan perubahan budaya dengan memanfaatkan knowledge management. maka diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :(Flowchart proses perubahan budaya lihat attachment)
1.Menginventarisir / mengumpulkan nilai-nilai budaya yang bersumber dari individu anggota organisasi dan anggota di luar organisasi (tacit culture) dan organisasi sendiri dan organisasi lainnya (eksplisit culture) dengan melakukan observasi/ pengamatan, pencatatan dan perekaman dengan menggunakan camera foto atau handycam.
2.Menilai dan membandingkan nilai-nilai budaya yang telah dikumpulkan tersebut dengan visi dan misi organisasi dengan menggunakan model scoring pembobotan terhadap nilai budaya yang memiliki dampak atau hubungan serta kecocokan dengan visi dan misi organisasi.
3.Memilih dan mengelompokkan nilai-nilai budaya yang telah cocok dengan upaya organisasi agar dapat menjalankan visi dan misinya.
4.Nilai-nilai budaya yang telah dipilih dirumuskan untuk dijadikan Nilai baru budaya kerja organisasi yang kemudian dlakukan standardisasi nilai-nilai budaya kerja.
5.Melakukan sosialisasi nilai-nilai budaya kerja standard kepada seluruh anggota organisasi, dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan kelompok anggota organisasi untuk mengantisipasi adanya penolakan dari anggota organisasi. Soasialisasi sebaiknya menampilkan nilai-nilai budaya yang diinginkan diharapkan melalui bentuk visualisasi (foto maupun film/video).
6.Melakukan pengamatan terhadap perilaku baru dari penerapan nilai-nilai budaya kerja baru (melakukan Hawhtorne effect). Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan camera foto dan handycam untuk merekam/ mendokumentasikan sikap dan perilaku atau bahasa tubuh yang telah dilakukan sesuai dengan standar nilai budaya dan perilaku lainnya yang mungkin akan menambah perbaikan dari nilai-nilai budaya untuk penyempurnaan.
7.Mengevaluasi hasil pengamatan dan dokumentasi/ rekaman foto dan video untuk dilakukan proses penilaian, pemilihan, pembandingan nilai-nilai budaya yang mungkin baru dan cocok dengan visi dan misi perusahaan untuk dimasukkan dalam nilai budaya kerja standard. Pada proses ini juga akan terlihat anggota organisasi yang belum dan telah melakukan penyesuaian terhadap nilai-nilai budaya kerja baru sebagai bahan untuk melakukan refleksi perubahan budaya kepada seluruh anggota organisasi sehingga dapat dijadikan cerminan untuk mulai dan mempertahankan perilaku, sikap cara berkomunikasi selama melakukan aktivitas kerja sesuai dengan nilai-nilai budaya kerja yang telah distandarkan oleh organisasi / perusahaan.