Rabu, 17 Maret 2010

mengelola perubahan budaya knowlefge management

Budaya mempengaruhi seluruh aspek kehidupan suatu masyarakat, sehingga jika terdapat suatu budaya baru atau perubahan budaya dalam suatu masyarakat, maka akan muncul resistensi (penolakan) dari sebagian masyarakatnya atau seluruhnya. Terdapat 3 jenis penolakan, yaitu :

1.Penolakan logis; penolakan berdasarkan alas an yang nalar dan ilmiah.
2.Penolakan pskologis; penolakan berdasarkan emosi, sentiment dan sikap yang lebih disebabkan kekuatiran akan sesuatu yang tidak diketahui, terganggunya rasa aman akibat perubahan.
3.Penolakan Sosiologis; penolakan berdasarkan kepentingan dan nilai kelompok kibat dari adanya persekongkolan politis, kepentingan pribadi, pandangan picik, bertentangan dengan nilai kelompok dan keinginan untuk mempertahankan persahabatan yang terjalin sekarang.

Budaya kerja merupakan sikap, perilaku, komunikasi dan kebiasaan yang dikembangkan berdasarkan nilai-nilai budaya yang berkembang dan dikembangkan guna menunjukkan adanya ciri khas yang membedakan anggota suatu organisasi dengan organisasi lainnya dalam melakukan aktivitas organisasinya.

Agar perubahan budaya kerja dapat dilakukan dengan baik maka perlu adanya pengelolaan yang baik. Pengelolaan yang baik terhadap pelaksanaan perubahan budaya kerja harus dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

1.Smoothing; Kebanyakan orang yang mengalami perubahan budaya akan berada pada kondisi psikologis yang dinamakan kejutan budaya, yaitu suatu kondisi yang membuat bingung, cemas, tidak aman yang diciptakan oleh lingkungan baru yang asing. Maka dalam melakukan perubahan budaya sebaiknya dilakukan secara evolusioner, bukan revolusioner (yaitu secara berangsur-angsur, bukan secara drastis).

2.Terstruktur; perubahan budaya harus dilakukan melalui sistem. Tanpa sebuah sistem yang dibangun, maka perubahan tersebut dapat dianggap sebagai teror bagi masyarakatnya. Sebuah sistem harus berada dalam keseimbangan sosial (Social Equilibrium). Hal itu dapat dicapai jika kita dapat menciptakan suatu dinamika yang menyeimbangkan semua bagiannya yang saling tergantung. Meskipun terjadi gerakan terus-menerus dalam setiap organisasi, harus tetap terpelihara keseimbangan kerja sistem. Sistem sama halnya dengan laut yang bergerak terus menerus, tetapi sifat dasar laut hanya berubah sedikit. Perubahan budaya harus dilakukan secara terencana, tidak boleh secara gradual apalagi hanya mengejar target waktu pelaksanaan implementasi perubahan budaya. Perubahan budaya dapat diilustrasikan dengan cara sederhana melalui percobaan menggunakan balon yang berisi udara. Apabila sebuah jari (yang mewakili perubahan) ditekankan pada bagian luar balon (yang mewakili organisasi), garis bentuk balon jelas berubah pada bagian yang ditekan. Pada sisi bidang yang mengalami tekanan secara jelas, yang mewakili perubahan, telah menimbulkan penyimpangan garis yang nyata. Akan tetapi yang tidak begitu jelas adalah bahwa seluruh balon (organisasi) terpengaruh dan terentang sedikit. Dengan ilustrasi perbandingan tersebut maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa organisasi secara keseluruhan cenderung terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada salah satu bagiannya. Nah molekul udara dalam balon itu mewakili pegawai perusahaan. Jelaslah bahwa mereka yang ada berada di tempat terjadinya perubahan harus menyesuaikan diri secara drastis. Jadi, perubahan harus dilakukan berdasarkan sistem yang dibangun secara terstruktur. Perubahan harus membawa dampak pada individu maupun organisasi. Jika salah satu tidak dapat terpenuhi, maka perubahan budaya tidak dapat berjalan optimal.

3.Berkelanjutan; Budaya merupakan pola kebiasaan berperilaku, bersikap, dan berkomunikasi dengan menggunakan nilai-nilai tertentu yang disepakati secara bersama. Melakukan perubahan budaya berarti melakukan usaha memasukkan nilai-nilai baru dan asing kepada suatu kelompok. Hal tersebut memerlukan proses yang berkelanjutan. Budaya idealnya bersumber dari nilai-nilai yang berkembang dari :
•Internal organisasi : Individu anggota organisasi, organisasi
•Eksternal organisasi : Individu di luar organisasi, organisasi lain.

Dalam struktur organisasi dalam sebuah perusahaan, perubahan budaya merupakan strategi yang terletak pada corporate level strategy dan business level strategy. Dalam perspektif Knowledge Management, budaya bersumber pada tacit knowledge / culture (pengetahuan / budaya individu) dan eksplisit knowledge/ culture (pengetahuan/ budaya yang dimiliki oleh organisasi).

Agar dapat melakukan perubahan budaya dengan memanfaatkan knowledge management. maka diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :(Flowchart proses perubahan budaya lihat attachment)
1.Menginventarisir / mengumpulkan nilai-nilai budaya yang bersumber dari individu anggota organisasi dan anggota di luar organisasi (tacit culture) dan organisasi sendiri dan organisasi lainnya (eksplisit culture) dengan melakukan observasi/ pengamatan, pencatatan dan perekaman dengan menggunakan camera foto atau handycam.
2.Menilai dan membandingkan nilai-nilai budaya yang telah dikumpulkan tersebut dengan visi dan misi organisasi dengan menggunakan model scoring pembobotan terhadap nilai budaya yang memiliki dampak atau hubungan serta kecocokan dengan visi dan misi organisasi.
3.Memilih dan mengelompokkan nilai-nilai budaya yang telah cocok dengan upaya organisasi agar dapat menjalankan visi dan misinya.
4.Nilai-nilai budaya yang telah dipilih dirumuskan untuk dijadikan Nilai baru budaya kerja organisasi yang kemudian dlakukan standardisasi nilai-nilai budaya kerja.
5.Melakukan sosialisasi nilai-nilai budaya kerja standard kepada seluruh anggota organisasi, dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan kelompok anggota organisasi untuk mengantisipasi adanya penolakan dari anggota organisasi. Soasialisasi sebaiknya menampilkan nilai-nilai budaya yang diinginkan diharapkan melalui bentuk visualisasi (foto maupun film/video).
6.Melakukan pengamatan terhadap perilaku baru dari penerapan nilai-nilai budaya kerja baru (melakukan Hawhtorne effect). Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan camera foto dan handycam untuk merekam/ mendokumentasikan sikap dan perilaku atau bahasa tubuh yang telah dilakukan sesuai dengan standar nilai budaya dan perilaku lainnya yang mungkin akan menambah perbaikan dari nilai-nilai budaya untuk penyempurnaan.
7.Mengevaluasi hasil pengamatan dan dokumentasi/ rekaman foto dan video untuk dilakukan proses penilaian, pemilihan, pembandingan nilai-nilai budaya yang mungkin baru dan cocok dengan visi dan misi perusahaan untuk dimasukkan dalam nilai budaya kerja standard. Pada proses ini juga akan terlihat anggota organisasi yang belum dan telah melakukan penyesuaian terhadap nilai-nilai budaya kerja baru sebagai bahan untuk melakukan refleksi perubahan budaya kepada seluruh anggota organisasi sehingga dapat dijadikan cerminan untuk mulai dan mempertahankan perilaku, sikap cara berkomunikasi selama melakukan aktivitas kerja sesuai dengan nilai-nilai budaya kerja yang telah distandarkan oleh organisasi / perusahaan.

mengelola km

KM berangkat dari keinginan untuk mngelola pengetahuan yang "terserak " dan
"banyak" di sebuah komunitas. Komunitas Belajar Sekolah-Rumah (istilah mas
Tyo), adalah komunitas dimana "learning" dihidupkan dengan cara saling
berbagi pengetahuan dan pengalaman (knowledge sharing).

Yang di "share" bisa tacit knowledge (idea atau pengalaman mengajar di rumah
yang ada dibenak), implicit knowledge (knowledge setengah jadi yang masih
harus dirangkai kembali) maupun explicit knowledge (pengetahuan yang sudah
berbentuk dokumen atau tulisan siap pakai - biasanya dari website ).

KM di komunitas HSers adalah sebuah strategy cara berfikir atau "mindset"
untuk mengelola pengetahuan sehingga pengetahuan yang dihasilkan atau
dibutuhkan oleh komunitas dapat terus diberikan "add value" atau nilai
tambah agar selalu inovatif. Dengan demilkian KM dapat mendorong efektifitas
dan produktifitas dalam pengajaran di rumah.

Selain karena banyak dan terserak, mengapa pengetahuan perlu dikelola?

Prof. Zack, menuturkan bahwa ada kaitan antara "What School can do" dengan
"What School Know", antara "What School must do" dengan "What School must
know".

Dalam mencapai tujuan pengajaran, jelas terdapat GAP yang harus dipenuhi
oleh para Guru/Siswa/Sekolah untuk menjembatani antara "What
school/teacher/student can do" dengan "What school/teacher/student must do".
Nah, jarang disadari bahwa untuk dapat memenuhi GAP tersebut, kita sebagai
orang tua juga harus menutupi GAP antara "What school/teacher/student Know"
dengan "What school/teacher/student must know".

Disinilah mengapa komnitas SMK memerlukan pengelolaan Pengetahuan atau KM.

Tahapan umumnya adalah :
1. Knowledge Acquisition
Yaitu mendefine "knowledge" apa saja yang harus di-submit,
mendefinisikan "knowledge dissemination" yaitu proses pembuatan knowledge
taxonomy" untuk memilah dan mengkelompokkan knowledge.

Untuk learning biasanya dikelompokkan berdasarkan "subject learning" (mata
pelajaran atau topik), "Object Learning" (usia pembelajar, level, tingkat
kesulitan dsbnya), "Type Learning" (material learning, homework, work with
parent, exercise, activity dsbnya), "Learning Document Type" (resource,
kurikulum, UU, lesson plan, worksheet, article, journal, dsbnya),
"Learning Doc Extension" (Video, Songs, Image, Paper dsbnya), "Learning
Institution" (institusi yang memproduce learning tsb jika ada), selebihnya
bisa di tampung di metadata.

Kenapa harus dikelompokkan?? agar mudah ketika melakukan "pencarian" dan
"pemutakhiran".

2. Knowledge Utilization
Mendorong komunitas SMK untuk menggunakan knowledge. Memberi penugasan
kepada KM Agent disetiap Community of Practice untuk senantiasa melakukan
"added value" terhadap knowledge yang ada. Disiasati agar knowledge bisa
digunakan baik offline maupun online, melalui komunitas2 fisik yang ada di
daerah lalu hasilnya di submit kembali menjadi milik komunitas dunia.

Menetapkan komite termasuk Subject Matter Expert dari komunitas untuk
melakukan "pemilahan" dan "pemutakhiran" terhadap knowledge sehingga siap di
"download" oleh komunitas.

Prosesnya kurang lebih sbb :

- misalnya ada 100 guru/smk yang share disebuah workspace tentang subject
"Manufacture" sub "MRP" untuk level "advance", type learning nya adalah
"Practice & Site Visit",

- MAKA tugas dari SME ini (berdasarkan kemampuan dan pengalaman sebagai
psikolog misalnya) akan melakukan "pemilahan" dan "pemutakhiran" terhadap
"bahan pengajaran" berdasarkan pengalaman Guru/Sekolah yang pernah
menjalankan. Setelah "final" maka SME ini akan kembali memasukkan ke dalam
Portal,

- lalu Guru/Siswa yang membutuhkan akan kembali mendownload dan
menggunakannya dalam belajar.

- Setelah selesai para Guru/Siswa kembali memberi/menuliskan pengalamannya
ke dalam Portal,
- dan SME kembali melakukan "pemutakhiran"
- begitu seterusnya.

3. Knowledge Externalization
Melakukan proses "feeding" terhadap content2 dari website rujukan,
begitupula sebaliknya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh komunitas?

1. Melakukan assessment terhadap kesiapan dan kebutuhan komunitas
Selain untuk melihat "budaya berbagi" komunitas, melihat visi masing2
komunitas thd KM, juga untuk mengetahui kebutuhan serta potensi para SMK.
Karena sebenarnya para komunitas SMK ini adalah guru dan siswa, juga guru
dan siswa bagi semesta jika mau berbagi.

2. Mendefinisikan "Bisnis Proses" komunitas dalam meng-create dan
me-retrieve knowledge. Kemudian melakukan pemetaan terhadap "content"
knowledge tersebut berdasarkan "bisnis proses" tersebut.

3. Menyiapkan Infrastruktur untuk IT. Salah satunya adalah dengan
mengembangkan "Knowledge Portal" Free untuk para members.
Portal dimana semua artikel, bahan ajar, pengalaman (forum tukar
menukar), pokoknya semuanya boleh di share.

Dengan dikelolanya KM maka knowledge yang banyak dan terserak tadi bisa
dikumpulkan, diklasifikasi, dimutakhirkan terus menerus oleh para komunitas
atau anggota yang membutuhkan.