KM berangkat dari keinginan untuk mngelola pengetahuan yang "terserak " dan
"banyak" di sebuah komunitas. Komunitas Belajar Sekolah-Rumah (istilah mas
Tyo), adalah komunitas dimana "learning" dihidupkan dengan cara saling
berbagi pengetahuan dan pengalaman (knowledge sharing).
Yang di "share" bisa tacit knowledge (idea atau pengalaman mengajar di rumah
yang ada dibenak), implicit knowledge (knowledge setengah jadi yang masih
harus dirangkai kembali) maupun explicit knowledge (pengetahuan yang sudah
berbentuk dokumen atau tulisan siap pakai - biasanya dari website ).
KM di komunitas HSers adalah sebuah strategy cara berfikir atau "mindset"
untuk mengelola pengetahuan sehingga pengetahuan yang dihasilkan atau
dibutuhkan oleh komunitas dapat terus diberikan "add value" atau nilai
tambah agar selalu inovatif. Dengan demilkian KM dapat mendorong efektifitas
dan produktifitas dalam pengajaran di rumah.
Selain karena banyak dan terserak, mengapa pengetahuan perlu dikelola?
Prof. Zack, menuturkan bahwa ada kaitan antara "What School can do" dengan
"What School Know", antara "What School must do" dengan "What School must
know".
Dalam mencapai tujuan pengajaran, jelas terdapat GAP yang harus dipenuhi
oleh para Guru/Siswa/Sekolah untuk menjembatani antara "What
school/teacher/student can do" dengan "What school/teacher/student must do".
Nah, jarang disadari bahwa untuk dapat memenuhi GAP tersebut, kita sebagai
orang tua juga harus menutupi GAP antara "What school/teacher/student Know"
dengan "What school/teacher/student must know".
Disinilah mengapa komnitas SMK memerlukan pengelolaan Pengetahuan atau KM.
Tahapan umumnya adalah :
1. Knowledge Acquisition
Yaitu mendefine "knowledge" apa saja yang harus di-submit,
mendefinisikan "knowledge dissemination" yaitu proses pembuatan knowledge
taxonomy" untuk memilah dan mengkelompokkan knowledge.
Untuk learning biasanya dikelompokkan berdasarkan "subject learning" (mata
pelajaran atau topik), "Object Learning" (usia pembelajar, level, tingkat
kesulitan dsbnya), "Type Learning" (material learning, homework, work with
parent, exercise, activity dsbnya), "Learning Document Type" (resource,
kurikulum, UU, lesson plan, worksheet, article, journal, dsbnya),
"Learning Doc Extension" (Video, Songs, Image, Paper dsbnya), "Learning
Institution" (institusi yang memproduce learning tsb jika ada), selebihnya
bisa di tampung di metadata.
Kenapa harus dikelompokkan?? agar mudah ketika melakukan "pencarian" dan
"pemutakhiran".
2. Knowledge Utilization
Mendorong komunitas SMK untuk menggunakan knowledge. Memberi penugasan
kepada KM Agent disetiap Community of Practice untuk senantiasa melakukan
"added value" terhadap knowledge yang ada. Disiasati agar knowledge bisa
digunakan baik offline maupun online, melalui komunitas2 fisik yang ada di
daerah lalu hasilnya di submit kembali menjadi milik komunitas dunia.
Menetapkan komite termasuk Subject Matter Expert dari komunitas untuk
melakukan "pemilahan" dan "pemutakhiran" terhadap knowledge sehingga siap di
"download" oleh komunitas.
Prosesnya kurang lebih sbb :
- misalnya ada 100 guru/smk yang share disebuah workspace tentang subject
"Manufacture" sub "MRP" untuk level "advance", type learning nya adalah
"Practice & Site Visit",
- MAKA tugas dari SME ini (berdasarkan kemampuan dan pengalaman sebagai
psikolog misalnya) akan melakukan "pemilahan" dan "pemutakhiran" terhadap
"bahan pengajaran" berdasarkan pengalaman Guru/Sekolah yang pernah
menjalankan. Setelah "final" maka SME ini akan kembali memasukkan ke dalam
Portal,
- lalu Guru/Siswa yang membutuhkan akan kembali mendownload dan
menggunakannya dalam belajar.
- Setelah selesai para Guru/Siswa kembali memberi/menuliskan pengalamannya
ke dalam Portal,
- dan SME kembali melakukan "pemutakhiran"
- begitu seterusnya.
3. Knowledge Externalization
Melakukan proses "feeding" terhadap content2 dari website rujukan,
begitupula sebaliknya.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh komunitas?
1. Melakukan assessment terhadap kesiapan dan kebutuhan komunitas
Selain untuk melihat "budaya berbagi" komunitas, melihat visi masing2
komunitas thd KM, juga untuk mengetahui kebutuhan serta potensi para SMK.
Karena sebenarnya para komunitas SMK ini adalah guru dan siswa, juga guru
dan siswa bagi semesta jika mau berbagi.
2. Mendefinisikan "Bisnis Proses" komunitas dalam meng-create dan
me-retrieve knowledge. Kemudian melakukan pemetaan terhadap "content"
knowledge tersebut berdasarkan "bisnis proses" tersebut.
3. Menyiapkan Infrastruktur untuk IT. Salah satunya adalah dengan
mengembangkan "Knowledge Portal" Free untuk para members.
Portal dimana semua artikel, bahan ajar, pengalaman (forum tukar
menukar), pokoknya semuanya boleh di share.
Dengan dikelolanya KM maka knowledge yang banyak dan terserak tadi bisa
dikumpulkan, diklasifikasi, dimutakhirkan terus menerus oleh para komunitas
atau anggota yang membutuhkan.
Rabu, 17 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar